Fotografi Sarawak berpotensi menjadi jembatan yang menghubungkan wilayah itu dengan dunia dan menginspirasi orang untuk melakukan perjalanan, ujar Menteri Pariwisata, Industri Kreatif dan Seni Pertunjukan Abdul Karim Rahman Hamzah.

Di Kuching, 3 Juli 2026, Abdul Karim menegaskan bahwa gambar yang menarik, otentik, dan penuh penghormatan mampu mempertahankan warisan budaya, merayakan identitas komunitas lokal, serta menampilkan daya tarik destinasi secara efektif.
Peran visual dalam promosi pariwisata
Abdul Karim menyoroti bagaimana fotografi dapat bekerja sebagai alat komunikasi yang kuat. Foto yang dihasilkan oleh para fotografer tidak sekadar dokumentasi; menurutnya, citra visual dapat memancing rasa ingin tahu dan minat perjalanan tanpa harus mengubah realitas yang difoto. Dengan kata lain, kekuatan sebuah foto terletak pada kemampuannya menggugah emosi dan menawarkan gambaran yang dekat dengan pengalaman lokal.
Pendekatan ini menempatkan fotografer sebagai per penting destinasi dan khalayak internasional. Gambar yang disajikan dengan tetap menjaga keaslian akan membantu audiens memahami dan menghargai konteks budaya serta nilai-nilai setempat, yang pada akhirnya mendukung tujuan promosi pariwisata.
Melestarikan warisan dan identitas budaya
Salah satu aspek yang ditekankan adalah tanggung jawab etis dalam menangkap subjek. Abdul Karim menekankan pentingnya menghormati tradisi dan praktik komunitas saat membuat karya. Foto yang diambil dengan sensitivitas budaya tidak hanya memperindah portofolio visual, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian warisan—baik materi maupun non-materi—dengan cara yang menghargai sumbernya.
Penggambaran yang menghormati identitas komunitas juga berperan dalam memperkuat kebanggaan lokal. Ketika warga melihat representasi diri mereka yang akurat dan bernilai, hal ini dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya dan mendukung keterlibatan mereka dalam sektor pariwisata.
Menunjukkan destinasi dengan cara yang nyata
Selain aspek budaya, fotografi juga berfungsi menyorot ragam destinasi yang mungkin belum dikenal luas. Abdul Karim melihat foto sebagai sarana memamerkan lanskap, kehidupan sehari-hari, dan pengalaman yang berbeda-beda di Sarawak dengan cara yang autentik. Pendekatan ini memberi calon wisatawan gambaran realistis tentang apa yang bisa mereka alami, sehingga ekspektasi sesuai dengan kenyataan saat berkunjung.
Perhatian pada otentisitas juga membantu menjaga reputasi destinasi. Ketika materi promosi mencerminkan kenyataan, kepercayaan publik terhadap tujuan wisata cenderung lebih terbangun dan berkelanjutan dibandingkan dengan ekspektasi yang dilebih-lebihkan.
Kolaborasi fotografi dan sektor pariwisata
Abdul Karim mengaitkan peran fotografi dengan perkembangan sektor pariwisata dan industri kreatif secara umum. Sinergi fotografer, pelaku wisata, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk menghadirkan narasi yang komprehensif tentang sebuah tempat, sekaligus memastikan praktik yang bertanggung jawab dalam produksi visual dan promosi.
Dengan memperkuat hubungan ini, diharapkan citra Sarawak yang ditampilkan ke dunia akan lebih beragam, kaya konteks, dan berlandaskan penghormatan terhadap warisan serta identitas setempat.
Fotografi Sarawak, jika dijalankan dengan prinsip-prinsip tersebut, tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya dan jembatan antarbudaya yang mengundang pengunjung untuk mengeksplorasi lebih jauh.