Semangat Long March menjadi fokus diskusi ketika forum bertajuk “Together on the Long March: From Epic Journey to National Rejuvenation” digelar di Lanzhou, Provinsi Gansu, pada 18 Juli. Kegiatan ini menandai penutupan rangkaian kunjungan internasional untuk memperingati 90 tahun perjalanan bersejarah tersebut.

Forum yang diselenggarakan bersama oleh China International Communications Group (CICG) Center for Asia-Pacific dan Gansu International Communication Center menghadirkan lebih dari 50 pakar serta jurnalis asal dalam dan luar negeri. Gao Anming, editor-in-chief CICG, hadir dan menyampaikan sambutan pada pertemuan tersebut.
Agenda perjalanan dan titik historis yang dikunjungi
Kegiatan untuk delegasi media internasional dimulai pada 13 Juli dan menelusuri sejumlah lokasi penting di Gansu yang terkait dengan perjalanan Long March. Rute kunjungan meliputi Lanzhou, Minxian di Dingxi, Hadapu di Longnan, Lazikou di Gannan, serta Huining di Baiyin. Gansu sendiri disebut sebagai wilayah krusial sepanjang rute Long March, termasuk lokasi pertemuan pasukan yang membawa dampak besar dalam sejarah revolusi Tiongkok.
Pandangan peserta: dari taktik hingga solidaritas
Dalam forum, sembilan pembicara dari berbagai latar membagikan refleksi berbasis pengalaman lapangan mereka. David Andrew Bromwich menekankan kombinasi keyakinan, kemampuan menyesuaikan strategi, dan dukungan rakyat sebagai faktor kunci keberhasilan Long March. Kimura Tomoyoshi menilai Long March sebagai momen perubahan penting dalam sejarah Partai Komunis Tiongkok, yang menegaskan peran rakyat dan pendekatan berbasis fakta.
Liang Xiaoyuan, wakil ketua eksekutif dan sekretaris jenderal Fourth Field Army Soldiers Descendants Association, menceritakan pengalaman pribadi terkait ayahnya, Letnan Jenderal Liang Xingchu. Ia menggambarkan tindakan berbagi makanan sederhana di tengah kondisi ekstrem sebagai contoh solidaritas dan saling menolong yang menjadi ciri pasukan Red Army.
Beberapa peserta internasional juga mengaitkan nilai-nilai Long March dengan perkembangan konrer. William N. Brown menyatakan melalui rekaman video, “the Long March represents the ultimate form of striving—choosing to press forward even when hope is almost completely out of sight.” Pernyataan itu lalu dikaitkan dengan upaya modern seperti pengentasan kemiskinan dan revitalisasi pedesaan yang dinilai meneruskan semangat ketekunan tersebut.
Strategi komunikasi dan pelestarian warisan
Diskusi juga memusatkan perhatian pada cara mengomunikasikan kisah Long March ke audiens global. Rafael Henrique Zerbetto menyoroti bagaimana Gansu mengubah semangat kerja keras dan persatuan menjadi dorongan untuk pembangunan berkualitas — dari pelestarian situs revolusi hingga perkembangan pariwisata merah dan industri lokal seperti tanaman danggui di Minxian.
Para peserta menyoroti pula peran pendidikan dan teknologi dalam pewarisan nilai. Zhang Jiusheng, kepala sekolah di Tongwei County, menyebutkan langkah sekolahnya mengintegrasikan semangat Long March ke dalam kurikulum lewat koridor budaya merah, bacaan klasik, dan kegiatan seni serta wisata edukatif. Sementara Elsbeth van Paridon menyarankan penggunaan pengalaman interaktif museum dan inovasi teknologi untuk menjembatani minat audiens internasional.
Zeng Jun menambahkan bahwa meski pelaku Long March sebagian besar adalah warga Tiongkok, keterlibatan tokoh asing dan dukungan internasional telah membuat kisah itu menjadi kartu panggil diplomasi publik. Zhavier Harris yang telah menapaki rute Long March satu dekade lalu mengatakan kunjungan kali ini memperdalam pemahamannya terhadap pengorbanan dan perkembangan perlindungan situs serta infrastruktur sosial di Gansu.
Yang Jianping, presiden CICG Center for Asia-Pacific yang memimpin forum, menutup acara dengan mengapresiasi ragam perspektif yang disampaikan: sebagai peneliti, saksi, komunikator, dan pewaris warisan. Ia berharap pengalaman lapangan para peserta dapat disebarluaskan lebih luas agar lebih banyak orang mengenal perkembangan modern Tiongkok melalui lensa Long March dan mengambil inspirasi dari semangat tersebut untuk menghadapi tantangan masa kini.