Millet Nagaland kembali mendapat tempat di ladang dan perayaan setelah hampir punah di beberapa desa. Di distrik Shamator, kelompok petani dan perempuan memulihkan beragam varietas millet tradisional sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan merawat warisan budaya.

Musim panen di kampung-kampung Yimkhiung bukan sekadar waktu panen: keluarga berkumpul untuk Metümnyo, ritual pascapanen yang dipimpin oleh kepala adat khiungpu. Hasil bumi diolah menjadi minuman tradisional, dipersembahkan dalam upacara syukur, dan dimakan dalam perayaan yang menandai akhir siklus pertanian.
Warisan millet di lanskap pegunungan
Di dataran berbukit Timur Laut India, millet telah lama menjadi pilihan utama karena sifatnya yang cocok untuk kondisi sulit: toleran terhadap tanah miskin, kurang membutuhkan irigasi, dan mudah disimpan saat akses menjadi sulit di musim monsun. Sistem jhum atau pertanian berpindah yang umum di wilayah ini mengandalkan kombinasi beberapa jenis millet—seperti finger millet, foxtail millet, Job’s tears, sorghum—bersama kacang-kacangan, sayuran, dan tanaman akar untuk menjaga keberagaman hayati dan kestabilan pangan keluarga.
Fungsi ganda: pangan, pakan, dan upacara
Millet bukan hanya bahan makan sehari-hari. Di banyak komunitas, butir-butir ini dipakai sebagai pakan ternak, pakan burung, bahan obat tradisional, serta bahan baku minuman fermentasi dan makanan upacara. Cara pengolahan berbeda antar komunitas: di Arunachal Pradesh beberapa suku menyiapkan bubur, makanan kukus, atau minuman fermentasi; di Sikkim, finger millet dimanfaatkan untuk roti dan makanan hangat yang sesuai iklim pegunungan; sementara di Nagaland millet tetap menjadi bagian dari minuman lokal dan hidangan adat.
Penurunan dan kebangkitan kembali
Mulai 1970-an, perluasan Sistem Distribusi Publik (PDS) dan kebijakan agrikultur yang memfavoritkan padi membuat beras menjadi lebih murah dan mudah diakses. Urbanisasi dan perubahan selera makan juga mendorong pergeseran konsumsi ke beras, sehingga beberapa varietas millet lokal nyaris punah. Namun, studi yang dipublikasikan pada 10 Maret 2026 menunjukkan bahwa pengetahuan etnobotani mengenai lebih dari 20 spesies millet masih tersimpan di wilayah Himalaya Timur Laut dan menawarkan solusi praktis untuk tantangan saat ini, seperti ketahanan iklim dan diversifikasi gizi.
Di Shamator, pandemi 2020 menjadi momentum kebangkitan. Saat rantai pasokan terganggu, anggota Self Employed Women’s Association (SEWA) mengumpulkan benih millet dari desa tetangga dan membentuk kelompok yang kini dikenal sebagai Millet Sisters. Dengan dukungan jaringan lokal, perempuan-perempuan ini menyelenggarakan festival millet tahunan, menghidupkan kembali varietas yang sempat pudar, dan memperluas area tanam.
Hingga 2025 hampir 90 petani kembali menanam pearl millet, finger millet, foxtail millet, sorghum, serta landrace lokal seperti Kotsaru, Phuhjem Muliam, Yetupiak, Kheak Khih Shipu, Wuh Ni Muk Athsap, dan Tansung. Upaya ini tidak sekadar menambah produksi—mereka juga merayakan kembali tradisi kuliner yang melekat pada komunitas.
Inisiatif lokal: dari biji ke pasar dan budaya
Inisiatif serupa muncul di Arunachal Pradesh lewat usaha Gepo Aali, yang didirikan oleh Dimum Pertin setelah ia mengamati keluarganya kesulitan menemukan anyat (Job’s tears). Pilihan nama usaha sarat makna: “Gepo means comfort, and it is something that I resonate with a lot of things personally. And Ali is the yellow seed. It translates to the seed of comfort.” Perempuan petani di sana masih menanam anyat dalam sistem tumpang sari tradisional dan mengolahnya menjadi bubur serta minuman fermentasi apong, yang memanfaatkan starter tradisional dari daun dan rempah.
Kebangkitan millet di wilayah Timur Laut bukan sekadar upaya mengembalikan tanaman ke sawah, melainkan pengakuan bahwa solusi untuk ketahanan pangan dan adaptasi iklim telah lama ada dalam praktik agrikultural masyarakat adat. Ketika negara mendorong millets sebagai bagian dari strategi pangan nasional, apa yang terjadi di bukit-bukit Nagaland dan kawasan sekitarnya menunjukkan bahwa tradisi ini tidak benar-benar hilang—mereka terus berkembang, menyesuaikan diri, dan memberi manfaat bagi komunitas lokal.