Millet Nagaland: 90 Petani Hidupkan Kembali Budidaya Tradisional

Ilustrasi millet nagaland untuk artikel Millet Nagaland: 90 Petani Hidupkan Kembali Budidaya Tradisional

Millet Nagaland kembali mendapat tempat di ladang dan perayaan setelah hampir punah di beberapa desa. Di distrik Shamator, kelompok petani dan perempuan memulihkan beragam varietas millet tradisional sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan merawat warisan budaya.

Ilustrasi millet nagaland untuk artikel Millet Nagaland: 90 Petani Hidupkan Kembali Budidaya Tradisional

Musim panen di kampung-kampung Yimkhiung bukan sekadar waktu panen: keluarga berkumpul untuk Metümnyo, ritual pascapanen yang dipimpin oleh kepala adat khiungpu. Hasil bumi diolah menjadi minuman tradisional, dipersembahkan dalam upacara syukur, dan dimakan dalam perayaan yang menandai akhir siklus pertanian.

Warisan millet di lanskap pegunungan

Di dataran berbukit Timur Laut India, millet telah lama menjadi pilihan utama karena sifatnya yang cocok untuk kondisi sulit: toleran terhadap tanah miskin, kurang membutuhkan irigasi, dan mudah disimpan saat akses menjadi sulit di musim monsun. Sistem jhum atau pertanian berpindah yang umum di wilayah ini mengandalkan kombinasi beberapa jenis millet—seperti finger millet, foxtail millet, Job’s tears, sorghum—bersama kacang-kacangan, sayuran, dan tanaman akar untuk menjaga keberagaman hayati dan kestabilan pangan keluarga.

Fungsi ganda: pangan, pakan, dan upacara

Millet bukan hanya bahan makan sehari-hari. Di banyak komunitas, butir-butir ini dipakai sebagai pakan ternak, pakan burung, bahan obat tradisional, serta bahan baku minuman fermentasi dan makanan upacara. Cara pengolahan berbeda antar komunitas: di Arunachal Pradesh beberapa suku menyiapkan bubur, makanan kukus, atau minuman fermentasi; di Sikkim, finger millet dimanfaatkan untuk roti dan makanan hangat yang sesuai iklim pegunungan; sementara di Nagaland millet tetap menjadi bagian dari minuman lokal dan hidangan adat.

Penurunan dan kebangkitan kembali

Mulai 1970-an, perluasan Sistem Distribusi Publik (PDS) dan kebijakan agrikultur yang memfavoritkan padi membuat beras menjadi lebih murah dan mudah diakses. Urbanisasi dan perubahan selera makan juga mendorong pergeseran konsumsi ke beras, sehingga beberapa varietas millet lokal nyaris punah. Namun, studi yang dipublikasikan pada 10 Maret 2026 menunjukkan bahwa pengetahuan etnobotani mengenai lebih dari 20 spesies millet masih tersimpan di wilayah Himalaya Timur Laut dan menawarkan solusi praktis untuk tantangan saat ini, seperti ketahanan iklim dan diversifikasi gizi.

Di Shamator, pandemi 2020 menjadi momentum kebangkitan. Saat rantai pasokan terganggu, anggota Self Employed Women’s Association (SEWA) mengumpulkan benih millet dari desa tetangga dan membentuk kelompok yang kini dikenal sebagai Millet Sisters. Dengan dukungan jaringan lokal, perempuan-perempuan ini menyelenggarakan festival millet tahunan, menghidupkan kembali varietas yang sempat pudar, dan memperluas area tanam.

Hingga 2025 hampir 90 petani kembali menanam pearl millet, finger millet, foxtail millet, sorghum, serta landrace lokal seperti Kotsaru, Phuhjem Muliam, Yetupiak, Kheak Khih Shipu, Wuh Ni Muk Athsap, dan Tansung. Upaya ini tidak sekadar menambah produksi—mereka juga merayakan kembali tradisi kuliner yang melekat pada komunitas.

Inisiatif lokal: dari biji ke pasar dan budaya

Inisiatif serupa muncul di Arunachal Pradesh lewat usaha Gepo Aali, yang didirikan oleh Dimum Pertin setelah ia mengamati keluarganya kesulitan menemukan anyat (Job’s tears). Pilihan nama usaha sarat makna: “Gepo means comfort, and it is something that I resonate with a lot of things personally. And Ali is the yellow seed. It translates to the seed of comfort.” Perempuan petani di sana masih menanam anyat dalam sistem tumpang sari tradisional dan mengolahnya menjadi bubur serta minuman fermentasi apong, yang memanfaatkan starter tradisional dari daun dan rempah.

Kebangkitan millet di wilayah Timur Laut bukan sekadar upaya mengembalikan tanaman ke sawah, melainkan pengakuan bahwa solusi untuk ketahanan pangan dan adaptasi iklim telah lama ada dalam praktik agrikultural masyarakat adat. Ketika negara mendorong millets sebagai bagian dari strategi pangan nasional, apa yang terjadi di bukit-bukit Nagaland dan kawasan sekitarnya menunjukkan bahwa tradisi ini tidak benar-benar hilang—mereka terus berkembang, menyesuaikan diri, dan memberi manfaat bagi komunitas lokal.

US
content-1701

article 838000411

article 838000412

article 838000413

article 838000414

article 838000415

article 838000416

article 838000417

article 838000418

article 838000419

article 838000420

article 838000421

article 838000422

article 838000423

article 838000424

article 838000425

article 838000426

article 838000427

article 838000428

article 838000429

article 838000430

article 838000431

article 838000432

article 838000433

article 838000434

article 838000435

article 838000436

article 838000437

article 838000438

article 838000439

article 838000440

article 838000441

article 838000442

article 838000443

article 838000444

article 838000445

article 838000446

article 838000447

article 838000448

article 838000449

article 838000450

article 00036

article 00037

article 00038

article 00039

article 00040

article 00041

article 00042

article 00043

article 00044

article 00045

article 00046

article 00047

article 00048

article 00049

article 00050

article 00051

article 00052

article 00053

article 00054

article 00055

article 00056

article 00057

article 00058

article 00059

article 00060

article 00061

article 00062

article 00063

article 00064

article 00065

article 00066

article 00067

article 00068

article 00069

article 00070

article 00071

article 00072

article 00073

article 00074

article 00075

article 0000131

article 0000132

article 0000133

article 0000134

article 0000135

article 0000136

article 0000137

article 0000138

article 0000139

article 0000140

article 0000141

article 0000142

article 0000143

article 0000144

article 0000145

article 0000146

article 0000147

article 0000148

article 0000149

article 0000150

article 0000151

article 0000152

article 0000153

article 0000154

article 0000155

article 0000156

article 0000157

article 0000158

article 0000159

article 0000160

article 0000161

article 0000162

article 0000163

article 0000164

article 0000165

article 0000166

article 0000167

article 0000168

article 0000169

article 0000170

article 2000126

article 2000127

article 2000128

article 2000129

article 2000130

article 2000131

article 2000132

article 2000133

article 2000134

article 2000135

article 2000136

article 2000137

article 2000138

article 2000139

article 2000140

article 2000141

article 2000142

article 2000143

article 2000144

article 2000145

article 2000146

article 2000147

article 2000148

article 2000149

article 2000150

article 2000151

article 2000152

article 2000153

article 2000154

article 2000155

article 2000156

article 2000157

article 2000158

article 2000159

article 2000160

article 2000161

article 2000162

article 2000163

article 2000164

article 2000165

articel 000000161

articel 000000162

articel 000000163

articel 000000164

articel 000000165

articel 000000166

articel 000000167

articel 000000168

articel 000000169

articel 000000170

articel 000000171

articel 000000172

articel 000000173

articel 000000174

articel 000000175

articel 000000176

articel 000000177

articel 000000178

articel 000000179

articel 000000180

articel 000000181

articel 000000182

articel 000000183

articel 000000184

articel 000000185

articel 000000186

articel 000000187

articel 000000188

articel 000000189

articel 000000190

articel 000000191

articel 000000192

articel 000000193

articel 000000194

articel 000000195

articel 000000196

articel 000000197

articel 000000198

articel 000000199

articel 000000200

content-1701